Rabu, 27 Oktober 2010

Kisah Bangun Pagi Menuju Keberkahan Rejeki

Saya dan suami punya kebiasaan yang lain lagi dalam menyambut pagi. Saya biasanya dilanda kebingungan akan menu makanan yang akan saya masak hari ini, khususnya jika daftar menu lupa saya susun sebelumnya. Tidak jarang, melihat tumpukan baju kotor yang harus dicuci, juga tumpukan peralatan makan di dapur, rasanya badan ini malas bergerak. Apalagi musim hujan nan dingin seperti sekarang. Tak perlu melihat tumpukan cucian pun, pagi hari biasa disambut dengan bermalas-malasan. Ingin rasanya kembali ke balik selimut, menunggu matahari yang masih malu-malu muncul. Suami saya, seringkali lebih semangat menyambut hari baru di pagi hari, tapi juga tidak jarang bermalas-malasan di pagi hari yang dingin.

Jika melihat anak pertama kami sudah bangun dan melakukan aktivitasnya sendiri dengan semangat, rasanya malu juga. Seharusnya saya memberi contoh yang lebih baik. Bukannya memilih bermalas-malasan daripada segera melakukan aktivitas yang menjadi tanggung jawab saya. Tapi seringnya, malu itu dikalahkan rasa malas. Padahal, dalam pagi hari ada keberkahan. Seperti pepatah di kalangan orang Arab yang menyebutkan bahwa berkah itu ada di waktu pagi, albarakatu fi bukuriha.
Waktu pagi, memang menyimpan banyak keutamaan. Salah satunya adalah keutamaan zikir pagi yang dianjurkan untuk memperoleh banyak rahmat Allah SWT. "Dan sebarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaan-Nya" (Al-Kahfi; 28).

Waktu pagi adalah waktu pergantian tugas malaikat malam dan siang. Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya bahwa waktu shubuh adalah masa di mana para malaikat malam naik ke langit digantikan dengan malaikat siang. Sungguh terasa indah jika saat-saat pergantian malaikat itu, kita sedang berada dalam kondisi taat kepada Allah swt.

Namun apa yang terjadi? Biasanya saya lebih memilih untuk bermalas-malasan. Menjalankan sholat shubuh dengan terkantuk-kantuk kemudian bermalas-malasan menunggu matahari muncul adalah hal yang tidak jarang saya lakukan. Astaghfirullahaladziim..
Waktu-waktu shubuh di pagi hari adalah waktu yang oleh para ulama dianggap sebagai waktu terbaik untuk mendalami suatu ilmu. Suasana pagi yang tenang membuat konsentrasi dan kemampuan memahami meningkat. Ibnu Jarir Ath Thabari, yang mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari selama empat puluh tahun terakhir masa usianya, melakukan murajaah akan ilmu dan ide-ide yang akan dituangkan dalam tulisannya di awal-awal shubuh. Lukman Al-Hakim pun mengingatkan anaknya tentang kemuliaan pagi dan mudahnya akal menyerap ilmu dengan mengatakan, "Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit."

Lihatlah! Pagi tak pernah bosan menyapa kita kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain. Suasana pagi tetaplah penuh dengan kesegaran dan kesejukan. Suasana pagi selalu membawa harapan bagi diri. Selamat pagi! Saya ingin selalu menyapa pagi dan menjadikannya momen yang baik untuk memperbaiki diri. Mudah-mudahan...Wallahualam bishshowab.

by Yusuf Mansur: www.suaramedia.com



Kamis, 21 Oktober 2010

PRESIDEN DAN PAMERAN LUKISAN

Suatu hari seorang presiden sebuah negara pergi melihat pameran lukisan-lukisan.
Karena saat itu beliau mengalami sakit mata dan penglihatannya kabur, maka ia mengajak satu ajudannya ut menuntunnya.
Presiden : “Wah, lukisan ini bagus. Gambar ikannya bener-bener hidup.”
Ajudan: “Shttt… Jangan keras-keras Pak. Itu gambar buaya.”
Kemudian mereka berpindah ke lukisan lain.
Presiden: “Gambar Gajah ini benar- benar gagah.”
Ajudan: “Shttt… Ojo keras-keras Pak. Itu gambar banteng.”
Presiden itu kemudian menahan diri memberi komentar sampai ia tiba pada satu pojok ruang pameran dia berseru:
“Wah, sing iki apik tenan. Lukisan Gorila nya begitu nyata anatominya.”
Ajudannya langsung tertegun dan berkata:
“Pssttt…. Jangan keras-keras Pak. Itu cermin!”

Rabu, 20 Oktober 2010

Setting Modem Dial-up GPRS Kartu IM3 Indosat

Saya tampilkan tulisan ini sekalipun hasil copyan dari komputer teman, karena waktu saya mau bikin dial up pake hp saya yang pake m3 saya pernah merasa kesulitan .kalo getow di lanjut dweh.....
Dunia Internet saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dunia, tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Bahkan bagi sebagian orang, jagad maya yang satu ini tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Belum lagi aksesnya dipermudah dengan adanya dukungan infrastruktur jaringan komputer yang bisa dibilang memadai, baik dari pemerintah maupun dari beberapa elemen masyarakat yang kemudian muncul istilah trend baru berlanganan internet yang disebut dengan istilah RT-RW net. Salah satu yang bisa dikaitkan dengan kemudahan akses internet ini adalah kebisaan koneksi internet hanya dengan menggunakan gabungan dua perangkat elektronik, yaitu laptop dan telepon seluler (handphone), di mana keduanya merupakan perangkat bergerak (mobile gadget). Dengan berbekal dua perangkat ini, orang sudah dapat menjelejahi jagad maya kapan pun dan di mana pun dia mau. Nah, Artikel ini membahas mengenai bagaimana melakukan konfigurasi dua perangkat ini hingga mampu melakukan koneksi internet. Konfigurasi ini juga bisa dilakukan pada komputer desktop rumahan, sehingga koneksi internet juga bisa dilakukan di rumah-rumah menurut kebutuhan tanpa harus abonemen tiap bulan. Artikel ini dibatasi dengan konfigurasi menggunakan kartu GSM prabayar jenis IM3 milik Indosat.
Adapun kebutuhan perangkat keras agar dapat terhubung internet adalah:
1. Laptop/komputer multimedia yang terdapat port sambungan dengan perangkat handphone, bisa berupa port USB (jika handphone yang dimiliki dilengkapi dengan kabel data USB), infra red, atau bluetooth.
2. Handphone (HP) yang dilengkapi dengan:
• perangkat koneksi, seperti kabel data, infra red atau bluetooth (untuk perangkat koneksi ini masing-masing saling menggantikan, dengan kata lain, pilih salah satu saja).
• modem GPRS.
Nah, jika syarat kebutuhan perangkat keras di atas sudah terpenuhi, kita mulai dengan setting modem. Setting modem untuk akses internet via GPRS kartu GSM IM3 bisa dibilang relatif mudah. Mudah bagi yang sudah terbiasa dengan dunia komputer dan jaringan, namun akan terasa susah bagi yang baru pertama kali mencoba. Tapi jangan khawatir, artikel ini saya tujukan untuk orang paling awam sekalipun.
Sebelum melakukan apa yang tertulis di artikel ini, diasumsikan sambungan GPRS di handphone sudah aktif. Sebab settingan sambungan GPRS ini berbeda-beda untuk setiap tipe handphone. Untuk beberapa tipe handphone, sambungan ini otomatis aktif begitu kartu IM3 aktif. Jika belum aktif, Anda bisa membaca buku petunjuk (manual) dari handphone Anda atau berkonsultasi dengan costumer service Indosat (hubungi nomor 300 atau datang langsung ke galeri Indosat).
Asumsi GPRS di kartu IM3 Anda sudah aktif, untuk menjadikan handphone sebagai modem dialup langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Hubungkan handphone dengan laptop/komputer.
Hubungkan handphone dan komputer menggunakan kabel data, infrared, atau bluetooth. Dalam kasus ini saya menghubungkan handphone Nokia 6230i dengan laptop.
2. Install aplikasi bawaan dari handphone Anda, seperti PC Suite milik Nokia atau Sony Ericsson.
Install PC Suite di laptop atau komputer yang hendak dihubungkan dengan handphone. Bila tidak punya software tersebut bisa download di www.nokia.com (untuk tipe Nokia). PC Suite ini mendukung beragam jenis koneksi: kabel data, bluetooth, infrared, dll.
3. Mengecek Modem (apakah sudah terinstal).
Langkah selanjutnya setting modem dial-up. Jika PC Suite sudah terinstal dan handphone anda sudah terdeteksi dengan baik oleh PC Suite berarti modem dapat kita setting. Cara mengecek apakah handphone sudah terdekteksi adalah dengan cara:
klik kanan ikon ”My Computer” » properties » tab ”hardware” » device manager. Cek di bagian ”modems” apakah sudah terdapat: ”Nokia 6230i USB Modem”. Cek kinerja modem apakah bekerja dengan baik, dengan cara klik kanan ”Nokia 6230i USB Modem” » properties, di bagian ”diagnostics” tekan tombol ”query modem”. Diagnostic akan berlangsung beberapa saat, hasilnya kita bisa lihat di kolom.
Jika modem belum terdeteksi coba cek kabel, atau install software PC Suitenya lagi, atau baca buku petunjuk handphone.
4. Setting nomor dial, user name dan password.
Jika modem GPRS telah terdeteksi, langkah berikutnya adalah setting nomor dial, user name dan password. Tiga komponen ini diperlukan untuk men-dial internet via server Indosat.
Untuk kartu IM3 ini,
o nomor dial: *99***1#
o user name: gprs
o password: im3
Untuk mensettingnya,
klik tombol Start » All Programs » Accessories » Communications » “New Connection Wizards”.
Akan muncul tampilan “New Connection Wizards”. Klik Next » pilih “Connect to the Internet” » Next » pilih “Set up my connection manually” » Next » pilih “Connect using a dialup modem” » Next » pilih “Nokia 6230i USB Modem” » Next » masukkan ISP name (dapat diisi apa pun, terserah Anda) » Next » masukkan nomor dialnya » Next » masukkan user name dan paswordnya » Next » centang “Add a shortcut to this connection to my desktop” (bila ingin membuat shortcut di desktop) » Finish. Setting selesai.
Jika langkah-langkah di atas telah dijalankan, klik dua kali shortcut dial-up di desktop tadi. Proses dial berjalan, Opening port… Dialing *99***1#… Verifiying user name and password..Registering your computer to the network… Autenthicated.
Bila berhasil tersambung maka akan muncul gambar monitor di systray di samping penunjuk jam komputer Anda. Selamat berselancar!
Troubleshooting
Pada kondisi dan jenis handphone tertentu kadang-kadang muncul pesan error pada saat melakukan proses dial. Berikut ini pesan error yang terjadi dan cara menanganinya:
- error 734: The ppp link control protocol has terminated
Jika ini terjadi, Anda belum bisa koneksi ke jaringan. Hal ini terjadi karena kita belum menambahkan parameter ke modem. Tambahkan baris perintah: AT+CGDCONT=1, “IP”, “www.indosat-m3.net”. Caranya, klik kanan My Computer » properties » tab ”Hardware” » Device Manager » Modems » Nokia 6230i USB Modem. klik kanan » properties » di bagian Advanced - Extra Settings, masukkan baris perintah di situ » OK. Coba dial sekali lagi.
- error 687: The remote computer did not respond.
Jika ini terjadi, restart handphone Anda dan/atau install ulang PC Suite di komputer Anda. Pastikan menggunakan PC Suite versi terbaru.
- error 797: A connection to the remote computer could not be established because the modem was not found or was busy.
Jika ini terjadi, berarti ada masalah dengan koneksi modem Anda. Coba cabut kabel dan pasang kembali.

Selasa, 20 Juli 2010

Mertua Vs Menantu

Alkisah ada seorang ibu dengan 3 menantu dari ketiga-tiga puterinya yang cantik-cantik, sang ibu mertua ingin tahu apakah ketiga-tiga menantunya itu sayang kepada mertuanya atau cuma putrinya saja.
Dia lalu memutuskan untuk menguji mereka secara bergantian. Suatu hari dia mengajak menantu pertama naik perahu bermotor ke tengah laut. Di sana dia sengaja menjatuhkan dirinya dari perahu dan terlempar ke dalam air laut. Sang menantu tanpa berfikir panjang langsung terjun menyelamatkan ibu mertuanya.
Besoknya ketika keluar rumah, sang menantu pertama melihat mobil Nissan Livina terparkir di depan rumah, dan sehelai kertas bertulis “Dari ibu mertuamu”.
Giliran menantu kedua pula yang diajak ke tengah laut. Sekali lagi sang mertua pura-pura terjatuh dan terlempar keluar perahu. Menantu kedua ini melupakan pakaian dan dompetnya, langsung terjun demi menyelamatkan mertua tercinta.
Besoknya di depan rumah menantu kedua melihat terparkir Toyota Alphard, disertai sehelai kertas tercatat tulisan, “Dari ibu mertuamu”
Ketika giliran menantu ketiga diajak ke tengah laut, sang mertua kembali melakukan gerakan terjun bebas. Tapi, malangnya kali ini sang menantu bercekak pinggang memandang ibu mertuanya yang tercungap-cungap di dalam air.
Seraya dia berkata, “Rasakan kau!”, sambil berputar membawa perahunya ke darat. Besok harinya ketika menantu ini keluar rumah, di depan rumahnya terparkir Mercedes Benz S-Class terbaru beserta kertas bertuliskan, “Dari ayah mertuamu”.

Kamis, 27 Mei 2010

Sohabat Nabi

Siapakah Sahabat terakhir yang meninggal dan Berapakah tahun masa kurun Sahabat?
Sahabat tersebut adalah أبو الطفيل عامر بن واثلة الليثي (Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah al-Laitsi). Masa kurunnya Sahabat sekitar 120 tahun dari diangkatnya Nabi Muhammad SAW. menjadi Rosul.
وعبارته : وضبط اهل الحديث اخر من مات من الصحابة وهو على الإطلاق ابو الطفيل عامر بن وائلة الليثى كما جزم به مسلم فى صحيحه وكان موته سنة وقيل سنة سبع ومائة وقيل سنة عشر ومائة وهو مطابق لقوله صلى الله عليه وسلم قبل وفاته بشهر على رأس مائة سنة لايبقى على وجه الارض ممن هو عليها اليوم اخذ. إهـ. فتح البارى. صـ 38

........................................ ........................................

(قوله خير أمتى قرنى) اى اهل قرنى والقرن اهل زمان واحد متقارب إشتركوا فى أمر من الأمور المقصودة ويقال ان ذلك مخصوص بما اذا اجتمعوا فى زمن نبى او رئيس يجمعهم على ملة او مذهب او عمل ويطلق القرن على مدة من الزمان واختلفوا فى تحديدها من عشرة اعوام الى مائة وعسرين لكن لم أر من صرح بالسبعين ولا بمائة وعشرة وما عدا ذلك فقد قال به قائل وذكر الجوهرى بين الثلاثين والثمانين وقدوقع فى حديث عبدالله ابن بسر عند مسلم مايدل على أن القرن مائة وهو المشهور وقال صاحب المطالع القرن أمة هلكت فلم يبق منهم أحد .وثبتت المائة فى حديث عبد الله بن بسر وهى ما عند اكثر أهل العراق ولم يذكر صاحب المحكم الخمسين وذكر من عشر الى سبعين ثم قال :هذا هو المتوسط من إعمال اهل كل زمن. وهذا اعدل الأقوال. إهـ. فتح البارى. جزء 7 صـ 5
وقد ظهر أن الذى بين البعثة واخر من مات من الصحابة مائة سنة وعشرون سنة اودونها اوفوقها بقليل على الإخـتلاف فى وفاة ابى الطفيل وان اعتبر ذلك من بعد وفاته صلى الله عليه وسلم فيكون مائة سنة او تسعين او سبعا وتسعين وأماقرن التابعين فإن اعتبر من سنة مائة كان نحو سبعين او ثمانين وأماالذين بعدهم فإن اعتبر منها كان نحو من خمسين فظهر بذلك أن مدة القرن تختلف باختلاف اعمار اهل كل زمان والله أعلم واتفقوا ان اخر من كان من اتباع التابعين ممن يقبل قوله من عاش الى حدود العشرين ومائتين. إهـ.
فتح البارى. صـ 6-7 ج

Jumat, 07 Mei 2010

Makhluk Tuhan Paling Seksi

Makhluk – makhluk yang mengeluarkan darah chaidl

وَالََّذِي يَحِيْضُ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ ثَمَانِيَةٌ نَظَمَهَا بَعْضُهُمْ بِقَوْلِهِ :
وَأَرْنَبٌ وَنـَـــاقَةٌ وَكَلْبَةٌ  يَحِيْضُ مِنْ ذِيْ الرُّوْحِ ضَبْعٌ مَرْأَةٌ
جَـأَتْ ثَمَانِياً وَهَذَا الْمُعْتَمَدُ  خُفَّاسٌ الْوَزْعَةُ وَالحجْرُفَـــقَدْ
Hewan - hewan yang mengalami chaidl, menurut sebagian ulama’ ada delapan, seperti dalam nadzomnya yang berbunyi :
Hewan bernyawa yang mengalami chaidl menurut qoul mu’tamad adalah : dlobu’ ( hewan Sejenis anjing hutan / serigala / hyena ), manusia, kelinci, onta, anjing, kelelawar, cicak dan kuda..

Apakah jin juga mengalami menstruasi ?

Wanita yang mengalami chaidl secara syar’i, hanyalah manusia dan jin,, sedangkan darah yang keluar dari anjing dll, tidak dihukumi darah chaidl syar’an. .

Selasa, 13 April 2010

Rasa Durian Itu Manis

Dua orang anak remaja melewati sebuah rumah yang memiliki kebun besar di depannya. Salah satu pohon di depan rumah tersebut adalah sebuah pohon durian. Saat itu sedang musim durian sehingga kebetulan pohon tersebut sedang berbuah. Mereka berdua melihat beberapa durian yang sudah terlihat matang di pohon. Rudi mengatakan bahwa durian tersebut pasti manis. Sementara temannya Anton mengatakan bahwa durian tersebut tidak ada rasanya. Mengapa bisa berbeda?
“Mengapa kamu mengatakan bahwa durian tersebut tanpa rasa?” tanya Rudi kepada Anton.
Sambil tersenyum Anton menjawab, “Mata tidak bisa merasakan manis atau pahit. Jadi durian tersebut tidak punya rasa karena hanya bisa dilihat.”
“Kacian deh loe!”, ejek Rudi sambil tertawa.
“Memang kamu bisa memakan durian itu?” kata Anton balik menyerang.
“Kenapa tidak?” jawab Rudi sambil tersenyum yakin.
“Kamu mau mencurinya? Yang punya rumah ini galak. Kalau ketahuan bisa bahaya!” kata Anton.
“Siapa bilang mau mencuri? Saya akan mendapatkan durian itu tanpa mencuri.” bela Rudi dengan yakin.
“Bagaimana mungkin? Memang kamu punya uang untuk membelinya?” tanya Anton.
“Tidak juga, tetapi saya punya ini dan ini.” kata Rudi sambil menunjukan kepala dan otot bisepnya. Rudi melanjutkan, “Mari kita buktikan.”
Kemudian Rudi menuju pintu pagar kebun tersebut dan memijit bel. Pemilik rumah pun keluar dan bertanya kepada Rudi.
“Ada apa Rudi?”
“Apakah bapak perlu bantuan untuk membersihkan kebun Pak? Kami berdua siap membantu bapak.” kata Rudi sambil melirik temannya Anton. Anton seperti dihipnotis langsung mengangguk.
“Oh begitu!”, kata pemilik rumah, “kamu mau apa sebagai upahnya?” lanjutnya.
“Cukup satu buah durian saja pak.” kata Rudi sambil melihat sebuah durian yang terlihat sudah matang.
“Kalian kan berdua, nanti saya kasih dua buah, masing-masing satu. Asal kalian bekerja dengan baik.”
“Siap pak!” kata Rudi sambil memberi hormat layaknya tentara disusul oleh Anton.
Singkat cerita pekerjaan pun beres. Mereka berdua menikmati durian masing-masing. Rudi bertanya kepada Anton.
“Bagaimana rasanya durian kamu?”
“Manis, he he.” jawab Anton sambil tertawa.
***
Dari kisah ini, minimal kita bisa mengambil satu pemahaman bahwa jangan mengatakan harta atau dunia itu tidak manis enak Cuma karena kita tidak bisa mencapainya sebagai kedok sebuah title kesufian, menjadilah seperti hatimu karena ALLAH sudah membekali kita dengan bekal yang tiada bandingnya....

Kamis, 01 April 2010

Perbedaan Mendalam antara Otak Pria dan Wanita Sumber: Iptek Net Topik: Psikologi Tags: frontal, otak postmortem, temporal lobe

Dalam tulisan pada jurnal “Cerebral Cortex” para peneliti memperlihatkan bahwa area otak yang dinamakan ” inferior parietal lobule (IPL) ” pada pria umumnya lebih besar dibandingkan pada wanita. Area tersebut merupakan bagian dari cerebral cortex dan terdapat di kedua sisi otak diatas kuping. Psikiater Godfrey Pearlson, M.D., yang memimpin studi tersebut, menyatakan bahwa IPL dikedua sisi tersebut tidak simetris. Pada pria IPL disebelah kiri lebih besar dibandingkan dengan disebelah kanan. Sedangkan pada wanita IPL disebelah kanan lebih besar dibandingkan dengan IPL disebelah kiri. Pada pria perbedaan sosok antara IPL kiri dan kanan tidak terlihat dengan jelas. Para peneliti juga mengamati bahwa IPL sebelah kiri pada otak postmortem dari seorang ahli fisika dan ahli matematika adalah lebih besar dari rata-rata milik orang biasa.
Dalam studi ini, para peneliti melakukan MRI-scan pada otak dari 15 pasang pria dan wanita. Mereka menggunakan perangkat lunak komputer Universitas Hopkins yang dirancang ahli psikiatris Patrick Barta, M.D., Ph.D. untuk membandingkan seluruh volume IPL berdasarkan gender. Dengan perangkat lunak tersebut para peneliti dapat menghitung dan membandingkan volume IPL sebelah kiri dan sebelah kanan. Dari perhitungan tersebut diperoleh bahwa pria memiliki jaringan IPL 6% lebih banyak dibandingkan yang dimiliki oleh wanita. Menurut Pearlson inferior parietal lobule pada manusia jauh lebih berkembang dibandingkan pada binatang. Hal ini memberikan peluang bagi otak untuk memproses informasi dari indera penglihatan dan indera peraba, dan memungkinkan bagi otak untuk berpikir secara cepat terutama yang berkaitan dengan cara merumuskan persepsi dan perhatian.
IPL sebelah kanan erat hubungannya dengan kinerja memori atas keterkaitan antar ruang, kemampuan untuk mengartikan keterkaitan antara bagian tubuh dan kesadaran yang mempengaruhi perasaan seseorang . Pearlson mengatakan bahwa IPL sebelah kiri lebih terlibat dalam persepsi, seperti menilai atau memperkirakan berapa cepat benda bergerak, memperkirakan waktu dan mempunyai kemampuan melihat gambar tiga dimensi. Menurut Pearlson perbedaan kinerja IPL kiri dan IPL kanan memberikan penyederhanaan mengapa seseorang ahli dalam bidang fisika dan matematika , sementara yang lainnya lebih ahli dalam bidang bahasa. Dalam penelitian terdahulu, Pearlson memperlihatkan bahwa dua area terpenting di otak , yakni frontal dan temporal lobe, yang dimiliki oleh wanita adalah lebih besar. Mungkin hal ini yang dapat menjelaskan mengapa wanita lebih ahli dalam menguasai bahasa

Senin, 22 Maret 2010

Ciri-Ciri Kecerdasan Spiritual

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual yaitu melakukan hubungan dengan pengatur kehidupan. Contoh: Seorang anak diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”?
Seorang yang tinggi SQ-nya cenderung menjadi menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian – yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain.
Sejalan dengan Covey yang menerangkan bahwa; Setiap pribadi yang menjadi mandiri, proaktif, berpusat pada prinsip yang benar, digerakkan oleh nilai dan mampu mengaplikasikan dengan integritas, maka ia pun dapat membangun hungungan saling tergantung, kaya, langgeng, dan sangat produktif dengan orang lain.
Mahayana menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spritual yang tinggi:
1. Memiliki prinsip dan visi yang kuat
Prinsip adalah kebenaran yang dalam dan mendasar ia sebagai pedoman berperilaku yang mempunyai nilai yang langgeng dan produktif. Prinsip manusia secara jelas tidak akan berubah, yang berubah adalah cara kita mengerti dan melihat prinsip tersebut. Semakin banyak kita tahu mengenai prinsip yang benar semakin besar kebebasan pribadi kita untuk bertindak dengan bijaksana.
Paradigma adalah sumber dari semua tingkah laku dan sikap, dengan menempatkan kita pada prinsip yang benar dan mendasar maka kita juga menciptakan peta atau paradigma mendasar mengenai hidup yang benar, dan pada ujung-ujungnya adalah hidup yang efektif.
2. Kesatuan dan keragaman
Seorang dengan spiritualitas yang tinggi mampu melihat ketunggalan dalam keragaman. Ia adalah prinsip yang mendasari SQ, sebagaimana Tony Buzan dan Zohar menjelaskan pada pemaparan yang telah disebutkan diatas. Tony Buzan mengatakan bahwa “kecerdasan spiritual meliputi melihat gambaran yang menyeluruh, ia termotivasi oleh nilai pribadi yang mencangkup usaha menjangkau sesuatu selain kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat”.
3. Memaknai
Makna bersifat substansial, berdimensi spiritual. Makna adalah penentu identitas sesuatu yang paling signifikan. Seorang yang memiliki SQ tinggi akan mampu memaknai atau menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan, baik karunia Tuhan yang berupa kenikmatan atau ujian dari-Nya, ia juga merupakan manifestasi kasih sayang dari-Nya. Ujiannya hanyalah wahana pendewasaan spiritual manusia.
Mengenai hal ini Covey meneguhkan tentang pemaknaan dan respon kita terhadap hidup. Ia mengatakan ”cobalah untuk mengajukan pertanyaan terhadap diri sendiri: Apa yang dituntut situasi hidup saya saat ini; yang yang harus saya lakukan dalam tanggung jawab saya, tugas-tugas saya saai ini; langkah bijaksana yang akan saya ambil?”. Jika kita hidup dengan menjalani hati nurani kita yang berbisik mengenai jawaban atas pertanyaan kita diatas maka, “ruang antara stimulus dan respon menjadi semakin besardan nurani akan makin terdengar jelas”.
4. Kesulitan dan penderitaan
Pelajaran yang paling berarti dalam kehidupan manusia adalah pada waktu ia sadar bahwa itu adalah bagian penting dari substansi yang akan mengisi dan mendewasakan sehingga ia menjadi lebih matang, kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan yang penuh rintangan dan penderitaan. Pelajaran tersebut akan menguhkan pribadinya setelah ia dapat menjalani dan berhasil untuk mendapatkan apa maksud terdalam dari pelajaran tadi. Kesulitan akan mengasah menumbuh kembangkan, hingga pada proses pematangan dimensi spiritual manusia. SQ mampu mentransformasikan kesulitan menjadi suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang bermakna. SQ yang tinggi mampu memajukan seseorang karena pelajaran dari kesulitan dan kepekaan terhadap hati nuraninya.
Menurut Khavari terdapat tiga bagian yang dapat kita lihat untuk menguji tingkat kecerdasan spritual seseorang:
1. Dari sudut pandang spiritual keagamaan (relasi vertikal, hubungan dengan yang Maha Kuasa). Sudut pandang ini akan melihat sejauh manakah tingkat relasi spritual kita dengan Sang Pencipta, Hal ini dapat diukur dari “segi komunikasi dan intensitas spritual individu dengan Tuhannya”. Menifestasinya dapat terlihat dari pada frekwensi do’a, makhluq spritual, kecintaan kepada Tuhan yang bersemayam dalam hati, dan rasa syukur kehadirat-Nya. Khavari lebih menekankan segi ini untuk melakukan pengukuran tingkat kecerdasan spritual, karena ”apabila keharmonisan hubungan dan relasi spritual keagamaan seseorang semakin tinggi maka semakin tinggi pula tingkat kualitas kecerdasan spritualnya”.
2. Dari sudut pandang relasi sosial-keagamaan. Sudut pandang ini melihat konsekwensi psikologis spritual-keagamaan terhadap sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial. Kecerdasan spiritual akan tercermin pada ikatan kekeluargaan antar sesama, peka terhadap kesejahteraan orang lain dan makhluk hidup lain, bersikap dermawan. Perilaku marupakan manifestasi dari keadaan jiwa, maka kecerdasan spritual yang ada dalam diri individu akan termanifestasi dalam perilakunya. Dalam hal ini SQ akan termanifestasi dalam sikap sosial. Jadi kecerdasan ini tidak hanya berurusan dengan ke-Tuhanan atau masalah spiritual, namun akan mempengaruhi pada aspek yang lebih luas terutama hubungan antar manusia.
3. Dari sudut pandang etika sosial. Sudut pandang ini dapat menggambarkan tingkat etika sosial sebagai manifestasi dari kualitas kecerdasan spiritual. Semakin tinggi tingkat kecerdasan spritualnya semakin tinggi pula etika sosialnya. Hal ini tercermin dari ketaatan seseorang pada etika dan moral, jujur, dapat dipercaya, sopan, toleran, dan anti terhadap kekerasan. Dengan kecerdasan spritual maka individu dapat menghayati arti dari pentingnya sopan santun, toleran, dan beradap dalam hidup. Hal ini menjadi panggilan intrinsik dalam etika sosial, karena sepenuhnya kita sadar bahwa ada makna simbolik kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang selalu mengawasi atau melihat kita di dalam diri kita maupun gerak-gerik kita, dimana pun dan kapan pun, apa lagi kaum beragama, inti dari agama adalah moral dan etika.
Demikianlah sedikit uraian tentang ciri-ciri Kecerdasan Spriritual, semoga dapat bermanfaat.

Minggu, 21 Maret 2010


Sekolah Q..

Andai Aq Sempat....

Seorang teman berkata, “Saya ingin sekali menulis, tapi saya tidak punya waktu. Saya harus bekerja di siang hari dan harus mengurus anak sebelum dan sepulang kerja. Bagaimana caranya?” Apa jawaban saya? “Memang, siapa yang punya waktu?”

Saya menjawab dengan sebuah pertanyaan, siapa yang punya waktu? Jawabannya adalah semua orang. Semua orang punya waktu. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Coba siapa yang hanya punya waktu 20 jam sehari? Atau hanya 5 hari dalam seminggu?

Yang membedakan setiap orang, bukan jumlah waktu yang dimiliki, karena semua orang memiliki waktu yang sama. Yang membedakan adalah keputusan setiap orang bagaimana menggunakan waktunya. Saya punya waktu 24 jam, untuk apa saja yang memanfaatkan waktu saya? Anda juga punya waktu 24 jam, untuk apa saja waktu yang Anda punya?

Jujur, sering kali jawaban saya bukan yang mereka (yang merasa tidak punya waktu) harapkan. Saya sendiri tidak tahu jawaban apa yang mereka inginkan. Saya bukannya tidak berempati terhadap orang yang sibuk dengan kewajibannya. Tetapi, kesibukan memang tidak pernah habis, dan semua itu adalah keputusan Anda. Anda mau menggunakan waktu Anda untuk apa.

Toni Morrison, seorang ibu tunggal yang harus mengurus 2 anak dan bekerja untuk menghidupi kedua anak-anaknya memenangkan penghargaan Pulitzer dan hadiah nobel atas tulisannya. Saat ditanya, bagaimana bisa menulis di tengah kesibukannya, dia menjawab:

“Menulis di sela-sela waktu.”

Mungkin ada yang membantah, “Saya tidak punya sela-sela waktu!”

Sekali lagi, terserah Anda. Apakah Anda mau memiliki “sela-sela waktu” atau tidak, semuanya pilihan dan keputusan Anda.

“Tapi, banyak yang harus saya lakukan!” Siapa yang tidak? Semua orang memiliki tugas yang harus dilakukan. Hanya pemalas yang tidak memiliki kewajiban. Hanya pemalas yang banyak memiliki waktu luang. Semua orang, yang sadar akan kewajiban, akan selalu sibuk karena banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, apa yang harus Anda lakukan juga ada pilihan Anda.

“Tapi…” Ssst, akan ada banyak alasan yang mengatakan Anda tidak punya waktu. Saya tahu. Mengapa tidak membuat alasan agar Anda bisa menyisihkan waktu? Jika Anda bertahan pada alasan tidak punya waktu, maka Anda akan terus tidak punya waktu. Jika Anda membuat alasan untuk mengambil keputusan menggunakan sebagian waktu untuk hal tertentu, maka Anda pun akan punya waktu.

Tidak Punya Waktu Atau Tidak Sempat....

Seorang teman berkata, “Saya ingin sekali menulis, tapi saya tidak punya waktu. Saya harus bekerja di siang hari dan harus mengurus anak sebelum dan sepulang kerja. Bagaimana caranya?” Apa jawaban saya? “Memang, siapa yang punya waktu?”

Saya menjawab dengan sebuah pertanyaan, siapa yang punya waktu? Jawabannya adalah semua orang. Semua orang punya waktu. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Coba siapa yang hanya punya waktu 20 jam sehari? Atau hanya 5 hari dalam seminggu?

Yang membedakan setiap orang, bukan jumlah waktu yang dimiliki, karena semua orang memiliki waktu yang sama. Yang membedakan adalah keputusan setiap orang bagaimana menggunakan waktunya. Saya punya waktu 24 jam, untuk apa saja yang memanfaatkan waktu saya? Anda juga punya waktu 24 jam, untuk apa saja waktu yang Anda punya?

Jujur, sering kali jawaban saya bukan yang mereka (yang merasa tidak punya waktu) harapkan. Saya sendiri tidak tahu jawaban apa yang mereka inginkan. Saya bukannya tidak berempati terhadap orang yang sibuk dengan kewajibannya. Tetapi, kesibukan memang tidak pernah habis, dan semua itu adalah keputusan Anda. Anda mau menggunakan waktu Anda untuk apa.

Toni Morrison, seorang ibu tunggal yang harus mengurus 2 anak dan bekerja untuk menghidupi kedua anak-anaknya memenangkan penghargaan Pulitzer dan hadiah nobel atas tulisannya. Saat ditanya, bagaimana bisa menulis di tengah kesibukannya, dia menjawab:

“Menulis di sela-sela waktu.”

Mungkin ada yang membantah, “Saya tidak punya sela-sela waktu!”

Sekali lagi, terserah Anda. Apakah Anda mau memiliki “sela-sela waktu” atau tidak, semuanya pilihan dan keputusan Anda.

“Tapi, banyak yang harus saya lakukan!” Siapa yang tidak? Semua orang memiliki tugas yang harus dilakukan. Hanya pemalas yang tidak memiliki kewajiban. Hanya pemalas yang banyak memiliki waktu luang. Semua orang, yang sadar akan kewajiban, akan selalu sibuk karena banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, apa yang harus Anda lakukan juga ada pilihan Anda.

“Tapi…” Ssst, akan ada banyak alasan yang mengatakan Anda tidak punya waktu. Saya tahu. Mengapa tidak membuat alasan agar Anda bisa menyisihkan waktu? Jika Anda bertahan pada alasan tidak punya waktu, maka Anda akan terus tidak punya waktu. Jika Anda membuat alasan untuk mengambil keputusan menggunakan sebagian waktu untuk hal tertentu, maka Anda pun akan punya waktu.

Tidak Punya Waktu Atau Tidak Sempat....

Seorang teman berkata, “Saya ingin sekali menulis, tapi saya tidak punya waktu. Saya harus bekerja di siang hari dan harus mengurus anak sebelum dan sepulang kerja. Bagaimana caranya?” Apa jawaban saya? “Memang, siapa yang punya waktu?”

Saya menjawab dengan sebuah pertanyaan, siapa yang punya waktu? Jawabannya adalah semua orang. Semua orang punya waktu. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Coba siapa yang hanya punya waktu 20 jam sehari? Atau hanya 5 hari dalam seminggu?

Yang membedakan setiap orang, bukan jumlah waktu yang dimiliki, karena semua orang memiliki waktu yang sama. Yang membedakan adalah keputusan setiap orang bagaimana menggunakan waktunya. Saya punya waktu 24 jam, untuk apa saja yang memanfaatkan waktu saya? Anda juga punya waktu 24 jam, untuk apa saja waktu yang Anda punya?

Jujur, sering kali jawaban saya bukan yang mereka (yang merasa tidak punya waktu) harapkan. Saya sendiri tidak tahu jawaban apa yang mereka inginkan. Saya bukannya tidak berempati terhadap orang yang sibuk dengan kewajibannya. Tetapi, kesibukan memang tidak pernah habis, dan semua itu adalah keputusan Anda. Anda mau menggunakan waktu Anda untuk apa.

Toni Morrison, seorang ibu tunggal yang harus mengurus 2 anak dan bekerja untuk menghidupi kedua anak-anaknya memenangkan penghargaan Pulitzer dan hadiah nobel atas tulisannya. Saat ditanya, bagaimana bisa menulis di tengah kesibukannya, dia menjawab:

“Menulis di sela-sela waktu.”

Mungkin ada yang membantah, “Saya tidak punya sela-sela waktu!”

Sekali lagi, terserah Anda. Apakah Anda mau memiliki “sela-sela waktu” atau tidak, semuanya pilihan dan keputusan Anda.

“Tapi, banyak yang harus saya lakukan!” Siapa yang tidak? Semua orang memiliki tugas yang harus dilakukan. Hanya pemalas yang tidak memiliki kewajiban. Hanya pemalas yang banyak memiliki waktu luang. Semua orang, yang sadar akan kewajiban, akan selalu sibuk karena banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, apa yang harus Anda lakukan juga ada pilihan Anda.

“Tapi…” Ssst, akan ada banyak alasan yang mengatakan Anda tidak punya waktu. Saya tahu. Mengapa tidak membuat alasan agar Anda bisa menyisihkan waktu? Jika Anda bertahan pada alasan tidak punya waktu, maka Anda akan terus tidak punya waktu. Jika Anda membuat alasan untuk mengambil keputusan menggunakan sebagian waktu untuk hal tertentu, maka Anda pun akan punya waktu.

Jumat, 19 Maret 2010

Melamun Atau Sebuah Tafakur

Ketika sedang melamun-lamun sendirian, tiba-tiba saya teringat kepada sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak boleh diingat-ingat, apalagi dipertanyakan. Untung saja saya bisa berapologi kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak sedang mengingat-ingat, hanya teringat. Dan tentu saja tidak ada seorang manusia pun, seberapapun tingginya tingkat ketololannya, yang tega menghukum dirinya sendiri karena sebuah ketidak sengajaan yang tidak di sengajanya. Untuk lebih menasuhakan taubat saya, maka saya akan menjelenterehkan ketidaksengajaan ini kepada sampeyan semua, sekedar buat bukti bahwa ingat-ingat saya ini benar-benar tidak sengaja.

Pertanyaan ini sebenarnya adalah akal-akalan anak SD, entah kenapa akal-akalan SD ini masih menempel di benak saya kini. Anda tentunya penasaran, sekalipun tidak amat-amat, maka saya sebaiknya tidak membuat kegemesan anda lebih memuncak. Supaya dosa saya tidak bertambah-tambah.

Siapakah founding father of Tahlil, atau siapakah bapak perumus dari pada Tahlil ?

Silahkan buka kamus pintar dari penerbit manapun, dan saya akan berikan sarapan pagi saya kepada siapapun yang beruntung menemukannya.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa tahlil itu sebuah budaya, tapi saya harus mengakui bahwa tidak ada ritual yang lebih membudaya dari tahlil. Atau kalau toh tidak mau dibilang paling membudaya, setidaknya ia pasti masuk ke dalam "10 top ritual paling popular" di tanah Indonesia. Terutama bagi kita yang pernah ngendon di jawa dwipa, dan terlebih lagi bagi kita-kita yang masih berbau kendeso-ndesoan.

Karena tidak ada buku yang bisa saya jadikan maraji’ al-mu'tabaroh, maka saya terpaksa mengambil "kama qala"mbah-mbah saya sebagai referensi. Semoga anda semua sudi untuk tidak mendebat saya dalam hal ini.

Katanya yang empunya cerita, tahlil itu adalah gubahan dari si jenius Lokajaya, atau lebih ngetrend dengan gelar sunan Kalijaga, sebagai salah satu formula canggihnya untuk menghilangkan semangat "hinduisme" dari masyarakat dengan tanpa menarik paksa masyarakat itu dari kultur yang diciptakannya sendiri. Sayang, bahwa teks asli tahlil Lokajaya itu sampai sekarang belum ditemukan oleh pegawai museum nasional. Ya….kita maklum sajalah, lha wong ngurusi yang sudah ada saja belum jegos kok neko-neko mau nyari yang masih berserakan.

Ketika menggubah tahlil, mungkin Lokajaya sendiri tidak menyangka bahwa formulanya ini akan bertahan sampai ratusan tahun. Bahkan mungkin lebih. Tapi yang menarik bukan itu, melainkan simbol yang dibuat lokajaya dalam susunan tahlil itulah yang bikin saya tergeli-geli kagum kepada beliau. Beliau ini orangnya memang kocak, gemar akan symbol-simbol, dan lebih terutama lagi suka akan orang-orang pinggiran dan yang terpinggirkan.

Coba saja, ketika terjadi pemancungan akbar atas diri Syeh Siti Jenar dan pemusnahan terhadap paham "manunggaling kawula gusti" –hal yang membuat saya berfikir bahwa musnah memusnahkan itu memang sudah menjadi budaya yang "apa boleh buat" bagi jagad kemanusiaan kita"- Sunan Kalijaga terang-terangan ditunjuk sebagai penasehat hukum dalam persidangan para sunan. Tetapi ketika terjadi perebutan kekuasaan antara Karebet dan Arya Penangsang, beliau malah terang-terangan memihak, bahkan –dalam satu versi cerita- memberikan keris pusakanya sehingga memungkinkan putra Tingkir itu untuk menduduki tahta, mengalahkan Arya Penangsang, dan akhirnya memaklumkan "manunggaling kawula gusti" sebagai paham resmi kerajaan. Kenapa? Lho kok kenapa, ya jelas-jelas karena Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya itu adalah putra dari Ki Ageng Pengging, yang merupakan murid dari Syeh Siti Jenar. Terus kenapa sang Sunan malah mendukungnya menjadi Raja, kalau jelas-jelas dia adalah bibit dari sebuah sekte sesat?

Entahlah, Lokajaya selalu cuek dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Persis seperti ketidak ambil pusingannya ketika ia ditanya, kenapa ia sengaja menyebarkan isu bahwa ia pernah menunggui tongkat kanjeng Bonang selama beberapa tahun di lereng sungai, atau kenapa ia membuat tiang tatal di Masjid Demak, kok nggak kayu glondongan saja, atau juga apa yang dimaksudkannya ketika menyusun tahlil, kenapa kok dinamakan tahlil, atau kenapa harus tahlil, kok nggak shodaqoh saja yang jelas-jelas ada nashnya, atau malah pelepah korma hijau yang nashnya lebih gamblang.

Terhadap pertanyaan-pertanya an seperti ini, Lokajaya selalu hanya menjawab dengan tersenyum unik, senyum yang mirip dengan senyum Monalissa. Senyum nakal yang tersungging di mulut sang suami ketika melihat isterinya merajuk minta gula-gula. Senyum yang bisa membuat gemas orang se-kota. Tapi juga senyum yang selalu memotivasi anak cucunya untuk terus berfikir dan menebak-nebak. Maka dengan apa boleh buat saya pun terpaksa juga menggunakan metode tebak-tebakan ini.

Tahlil dibuat dalam format yang begitu menakjubkan. Setidaknya ada beberapa fokus yang membuat saya mau tidak mau tersenyum-senyum.

Pertama, tahlil biasanya dimulai dengan "ila hadrati" disambung dengan bacaan al-Quran. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah pahala dari sebuah bacaan bisa ditransfer dari orang hidup kepada yang sudah meninggal. Golongan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan sampai, bersandar pada hadits pelepah korma. Sedangkan Imam Syafii dan yang sependapat mengatakan tidak sampai. Disinilah uniknya. Terang-terangan sunan Kalijaga itu tahu kalau mayoritas rakyat jawa itu bermadzhab Syafi’i, tapi kok malah diberikan ritual yang berbau-bau hanafi dan hanbali. Apa ini bukan namanya menjungkirbalikkan tatanan yang ada, mencampurbaurkan pakem yang sudah tertata?

Apa sang Sunan belum membaca tentang kaidah Talfiq? Atau malah mungkin kaidah talfiq itu belum ada pada zaman sang Sunan?

Kedua, tahlil itu pada aslinya adalah ucapan, "Lailaha illallah". Sebuah pengakuan yang paling dasar dan paling agung terhadap kesadaran tertinggi akan eksistensi kita sebagai makhluk yang punya cikal bakal, punya sandaran, dan bukan hasil dari dolan-dolanan maupun kebetulan. Ini jelas ditujukan kepada orang hidup. Karena orang mati mana yang punya kesadaran dan bisa disadarkan, setidaknya menurut penilaian kemanusiaan kita. Tapi oleh Sunan Kalijaga, susunan tahlil ini kok malah dihadiahkan kepada orang mati. Ini apa maksudnya?. Apa iya dengan ini Sang Sunan mencoba menyampaikan pesan Tuhan "janganlah kamu mati selain sebagai seorang mukmin" ? apa betul dengan tahlil ini Sunan Kalijaga mencoba mewanti-wanti orang hidup melalui orang mati? Kalau memang begitu, kenapa harus lewat orang mati? Kenapa ndak beliau sendiri saja langsung? Ohhh……mungkin karena orang mati itu lebih jujur dari orang hidup. Orang hidup, apapun pangkatnya, bisa dan mau berbohong, tapi orang mati sekalipun masih mau, tapi tidak bisa. Dan selain Nabi, orang matilah yang benar-benar ma’shum, karena siapa yang sempat buat kesalahan lagi setelah ia mati?

Ketiga. Sekalipun para ulama berbeda pendapat tentang hukum transfer pahala bacaan, tapi mereka sepakat bahwa do’a orang yang hidup bisa sampai kepada mayit. Dan biasanya tahlil itu diakhiri dengan do’a. artinya setelah segala perbedaan dan perdebatan, toh kita masih bisa atau masih punya lahan untuk bersepakat. Atau setidaknya kita bisa bersepakat dalam ketidaksepakatan.

Keempat. Kenapa rangkaian ini dinamakan tahlil, bukan tahmid atau tasbih? Mungkin karena tahlil itu adalah pusat, pusar galaksi ketuhanan, juga jantung kemanusiaan. Kalau kita mengakui bahwa Tuhan kita Cuma satu, maka kita juga harus mengakui bahwa semua manusia, semua hewan, semua tumbuhan, semua jejadian di seluruh semesta ini adalah juga cipratan cahaya dari cermin ketuhanan. Maka kita juga harus memperlakukan mereka sama seperti kita memperlakukan diri kita sendiri, atau orang yang segolongan dengan kita. Itu artinya kita tidak boleh memilih-milih dalam hal mentahlili orang. Kyai harus kita tahlili, tapi perampok juga wajib kita tahlili. Kita harus mentahlili santri, tapi kita juga harus mentahlili pelacur. Sebagaimana orang NU sunnah mentahlili orang Muhammadiyah, dan orang Muhammadiyah pun silahkan kalau mau mentahlili orang NU.

Akhirnya, saya pun sudah agak tenang ketika nanti ada orang menggugat saya, "kok kamu gak batal bersentuhan dengan isterimu? Kan itu bukan madzhab Syafii, padahal tadi pagi kamu masih qunut? Atau kenapa kamu kawin dengan orang muhammadiyah? Kan moyangmu masih keturunan orang NU? ". Saya akan jawab, "ah …. Saya kan hanya taklid kepada panjenengane sunan Kalijaga"…………
Tulisan dari seorang yang aku kagumu tapi tak pernah ku kenal.

Kerinduanku

Kerinduanku
SYAIKHUNA AL KIROM